sering saya merasa kalau saya ini sendirian, lonely.
sungguh. itu jelas terasa, bahkan oleh rekan-rekan saya.
tapi, beberapa hari ini,
banyak kesadaran dan gambaran nyata yang hadir di fikiran bahwa ternyata diri ini sangatlah kaya!
sebut saja sebuah contoh.
beberapa hari lalu, ketika lagi sengaja menyendiri untuk kontemplasi ringan, sambil minum susu cokelat di kantin salman, saya menyadari bahwa saya tinggal di tengah lingkungan yang sangat luar biasa indah dan hangat, dengan begitu banyak rekan yang dengan mereka saya sering bekerja sama, teman-teman dan adik yang menghormati saya, dan begitu banyak lagi oranglain yang sangat peduli dengan apa yang sedang saya upayakan untuk tertunai--TA.
dan hari-hari ini, ketika sedang berfikir tentang hari-hari berat yang harus saya lewati dalam dua minggu ke depan, saya menemukan bahwa saat ini hampir semua hal yang mungkin dimiliki seorang mahasiswa tingkat akhir, telah saya miliki! almost perfect!
persahabatan, pengabdian, petualangan, penghormatan, gagal dan kembali bangkit, orangtua yang mendukung, rumah yang hangat, jalan masa depan yang terarah, visi dan pemaknaan hidup yang jelas, komunitas yang mengandalkan, target-target yang menanti dipenuhi, masa lalu yang berarti dan masa depan yang cerah. Apalagi yang bisa lebih baik dari ini..?
dan oleh karena itu,
tersadarlah diri ini bahwa mensyukuri semua itu dengan pengorbanan dan kerja keras di hari-hari ini--demi tertunainya langkah akhir, adalah sebuah kewajiban yang tak mungkin ditawar.
semoga hati ini dapat tetap sadar dan terjaga dalam beberapa hari ke depan yang sangat menentukan wajah masa depan seorang muhammad firman. semoga.
Sunday, August 29, 2004
Tuesday, August 24, 2004
selamat tinggal sanguin!
Ternyata Tuhan hendak menjadikan hari saya kemarin istimewa..
Ketika pertemuan pagi yang singkat dengan inta menghadirkan sebuah kabar, pertemuan kembali dengannya dan mas adi—saudara sepupunya yang juga adalah teman lama saya—pada sore hari hingga maghrib, memberi saya kesadaran yang paling berharga dalam perenungan dua minggu terakhir. Bahwa kekuatan diri ini bersandar pada "kesungguhan jiwa seorang pengabdi"—hal terbaik yang bisa saya peroleh dari kota yang “melahirkan” saya, semarang; sesuatu yang senantiasa tergugah kembali ketika perbincangan serius tentang semarang memenuhi ruang hati sedemikian dalam hingga menyentuh dasarnya—rasa cinta yang tulus.
Dan, kesadaran itu menjadi lengkap ketika diri terdalam menjadi yakin bahwa kualitas itu hanya akan terpelihara dalam jiwa yang “sadar dan terjaga”. Nyatanya, kota sanguin ini telah lama mencabik-cabik kesadaran, melemahkan hati, dan melelapkan diri dalam kemalasan pecundang. Kesadaran itu pada akhirnya menjadikan diri ini tak lagi ragu untuk berkata “selamat tinggal sanguin!”
Dan tentang kota itu, apakah disana tak lagi tersisa apa-apa..? sepertinya tidak begitu. Diri ini lahir di sana, dan di sanalah juga saya dapat senantiasa menemukan kembali jati diri jika hidup membuat jiwa menjadi lelah dan terlelap.
maka sadar dan terjagalah!
Ketika pertemuan pagi yang singkat dengan inta menghadirkan sebuah kabar, pertemuan kembali dengannya dan mas adi—saudara sepupunya yang juga adalah teman lama saya—pada sore hari hingga maghrib, memberi saya kesadaran yang paling berharga dalam perenungan dua minggu terakhir. Bahwa kekuatan diri ini bersandar pada "kesungguhan jiwa seorang pengabdi"—hal terbaik yang bisa saya peroleh dari kota yang “melahirkan” saya, semarang; sesuatu yang senantiasa tergugah kembali ketika perbincangan serius tentang semarang memenuhi ruang hati sedemikian dalam hingga menyentuh dasarnya—rasa cinta yang tulus.
Dan, kesadaran itu menjadi lengkap ketika diri terdalam menjadi yakin bahwa kualitas itu hanya akan terpelihara dalam jiwa yang “sadar dan terjaga”. Nyatanya, kota sanguin ini telah lama mencabik-cabik kesadaran, melemahkan hati, dan melelapkan diri dalam kemalasan pecundang. Kesadaran itu pada akhirnya menjadikan diri ini tak lagi ragu untuk berkata “selamat tinggal sanguin!”
Dan tentang kota itu, apakah disana tak lagi tersisa apa-apa..? sepertinya tidak begitu. Diri ini lahir di sana, dan di sanalah juga saya dapat senantiasa menemukan kembali jati diri jika hidup membuat jiwa menjadi lelah dan terlelap.
maka sadar dan terjagalah!
Monday, August 23, 2004
tak lagi tersisa..
Assalaamu’alaikum wr.wb.
Pagi ini—baru saja—saya melihat suatu hal. Melalui pertemuan singkat dengan inta—seorang teman lama dari semarang—di selasar salman, sebuah pertemuan yang sangat wajar jika disambut dengan terkejut, yang berlangsung sebentar, berusaha santun, dan datar saja, tersampaikanlah pada diri saya sebuah kabar. Tampaknya saya tak lagi punya satu pun sandaran di sana. Tak ada lagi yang menunggu dan membutuhkan saya di sana, tak ada lagi rasa keberartian, dan mungkin tak lagi ada panggilan untuk pulang.
Sekalipun diri ini memang tetap dapat berguna jika ada di sana, tampaknya kalau pun tak ada, semua tetap baik-baik saja. Dan tentunya tak heran jika semua—sahabat, teman lama, adik kelas—dengan kehidupannya masing-masing, pun telah lama menerima bahwa mereka harus hidup tanpa membutuhkan saya.
Dan dari sini semoga saya menjadi lebih dewasa—belajar hidup dengan tanggung jawab yang ada di genggaman, sambil berusaha untuk lebih menerima dan menjalani kesendirian. Toh, cinta itu untuk siapa saja.. dan masa lalu memang ada saatnya luruh dilapukkan waktu sehingga tak lagi bisa dijadikan sandaran.
masa itu ternyata sudah tiba...
Mungkin ini satu dari beberapa hal yang ada di hari-hari ini, yang hadir untuk meyakinkan saya bahwa sudah saatnya melangkah lebih ke depan dan menerima bahwa perlahan tapi pasti, diri ini berubah—menjadi sesuatu yang baru: sepenuhnya baru.
hanya saja saya masih tak bisa menjelaskan
mengapa ada rasa tercekat di tenggorokan..
Pagi ini—baru saja—saya melihat suatu hal. Melalui pertemuan singkat dengan inta—seorang teman lama dari semarang—di selasar salman, sebuah pertemuan yang sangat wajar jika disambut dengan terkejut, yang berlangsung sebentar, berusaha santun, dan datar saja, tersampaikanlah pada diri saya sebuah kabar. Tampaknya saya tak lagi punya satu pun sandaran di sana. Tak ada lagi yang menunggu dan membutuhkan saya di sana, tak ada lagi rasa keberartian, dan mungkin tak lagi ada panggilan untuk pulang.
Sekalipun diri ini memang tetap dapat berguna jika ada di sana, tampaknya kalau pun tak ada, semua tetap baik-baik saja. Dan tentunya tak heran jika semua—sahabat, teman lama, adik kelas—dengan kehidupannya masing-masing, pun telah lama menerima bahwa mereka harus hidup tanpa membutuhkan saya.
Dan dari sini semoga saya menjadi lebih dewasa—belajar hidup dengan tanggung jawab yang ada di genggaman, sambil berusaha untuk lebih menerima dan menjalani kesendirian. Toh, cinta itu untuk siapa saja.. dan masa lalu memang ada saatnya luruh dilapukkan waktu sehingga tak lagi bisa dijadikan sandaran.
masa itu ternyata sudah tiba...
Mungkin ini satu dari beberapa hal yang ada di hari-hari ini, yang hadir untuk meyakinkan saya bahwa sudah saatnya melangkah lebih ke depan dan menerima bahwa perlahan tapi pasti, diri ini berubah—menjadi sesuatu yang baru: sepenuhnya baru.
hanya saja saya masih tak bisa menjelaskan
mengapa ada rasa tercekat di tenggorokan..
Sunday, August 22, 2004
God's Alive and Well
God’s Alive and Well
[billy gilman]
When I see the stars hang in the sky
When I watch a bird spread its wings and fly
And each time I hear the wind blow through the trees
With every breath of air that I breathe
All the things I can't see, still inside I believe
In a baby's laugh, in a mother's eyes
Little miracles around us everyday of our lives
The way the sun lights up the dark
The hope that I feel in my heart
And as far as I can tell, God's alive and well
Yeah God's alive and well
Just like the earth cradles the moon
How that far away sun makes the flowers bloom
And the joy only heaven can bring to us all
If trouble comes I am safe in the hands
Cause I know there's a plan my heart understands
In a baby's laugh, In a mother's eyes
little miracles around us everyday of our lives
The way the sun lights up the dark
The hope that I feel in my heart
And as far as I can tell, God's alive and well
Yeah God's alive and well
Call it a little bit of luck
Or just a simple twist of fate
Or we get swept up in the arms
And we can feel it everyday
In a baby's laugh, in a mother's eyes
Little miracles around us everyday of our lives
The way the sun lights up the dark
The hope that I feel in my heart
And as far as I can tell
Yes as far as I can tell, God's alive and well
Yeah God's alive and well
As far as I can tell, God's alive and well
[billy gilman]
When I see the stars hang in the sky
When I watch a bird spread its wings and fly
And each time I hear the wind blow through the trees
With every breath of air that I breathe
All the things I can't see, still inside I believe
In a baby's laugh, in a mother's eyes
Little miracles around us everyday of our lives
The way the sun lights up the dark
The hope that I feel in my heart
And as far as I can tell, God's alive and well
Yeah God's alive and well
Just like the earth cradles the moon
How that far away sun makes the flowers bloom
And the joy only heaven can bring to us all
If trouble comes I am safe in the hands
Cause I know there's a plan my heart understands
In a baby's laugh, In a mother's eyes
little miracles around us everyday of our lives
The way the sun lights up the dark
The hope that I feel in my heart
And as far as I can tell, God's alive and well
Yeah God's alive and well
Call it a little bit of luck
Or just a simple twist of fate
Or we get swept up in the arms
And we can feel it everyday
In a baby's laugh, in a mother's eyes
Little miracles around us everyday of our lives
The way the sun lights up the dark
The hope that I feel in my heart
And as far as I can tell
Yes as far as I can tell, God's alive and well
Yeah God's alive and well
As far as I can tell, God's alive and well
Monday, August 16, 2004
hari-hari yang berat
hari-hari ini.. masa yang tujuh tahun itu seperti memadat.. dalam gerakan waktu jam ke jam hari ke hari. semua seperti kilas balik yang deras dari masa remaja hingga kini--dan bahkan bayangan masa depan pun berkilasan membangkitkan harapan di tengah gelisah, cekam, dan keserbatakpastian.
ya, ini tentang tuntutan akademik yang tinggal selangkah itu--dan tak juga kunjung terpijak. langkah itu seperti tertahan oleh begitu banyak hal yang tidak sepenuhnya dimengerti, tak bisa diceritakan. sementara itu, satu satu temanku memberikan dorongan, penghormatan, doa.
dan juga sementara itu, aku hanya bisa mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa dalam hari-hari yang tak banyak lagi--seakan menjemput kematian--aku hanya perlu memastikan bahwa jiwaku menjalaninya dengan sepenuh kesantunan. tetap berusaha, mengisi jam demi jam, menjaga jarak tetap dekat pada Tuhan, memaksa diri bertahan dalam deraan, sambil tetap tak bisa memalingkan wajah dari kenyataan bahwa betapa banyak hal yang tidak bisa dikendalikan membentuk hari-hari seorang manusia--dan seakan menentukan nasibnya.
aku hanya ingin menemukan diriku, di ujung jalan nanti, berdiri menerima apa yang layak kuterima. dan ketika itu, nurani ini pun mengetahui bahwa sebagai seorang manusia dewasa, aku telah berusaha sekeras yang ku bisa untuk mewujudkan : di tengah kemerdekaan mengisi hidup--sebuah prinsip yang coba ku tanam dalam-dalam di diri ini--aku pun berusaha mengutuhkannya dengan menunaikan tanggungjawabku pada orang-orang yg sebagian sedih dan gembiranya disandarkan pada tindakan dan usaha-usahaku.
semua orang memang tak mau kecewa, dan karenanya tak ingin dikecewakan.
karena itu, semoga aku layak untuk menulis ini :
Saksikanlah, Aku akan menang!!!
ya, ini tentang tuntutan akademik yang tinggal selangkah itu--dan tak juga kunjung terpijak. langkah itu seperti tertahan oleh begitu banyak hal yang tidak sepenuhnya dimengerti, tak bisa diceritakan. sementara itu, satu satu temanku memberikan dorongan, penghormatan, doa.
dan juga sementara itu, aku hanya bisa mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa dalam hari-hari yang tak banyak lagi--seakan menjemput kematian--aku hanya perlu memastikan bahwa jiwaku menjalaninya dengan sepenuh kesantunan. tetap berusaha, mengisi jam demi jam, menjaga jarak tetap dekat pada Tuhan, memaksa diri bertahan dalam deraan, sambil tetap tak bisa memalingkan wajah dari kenyataan bahwa betapa banyak hal yang tidak bisa dikendalikan membentuk hari-hari seorang manusia--dan seakan menentukan nasibnya.
aku hanya ingin menemukan diriku, di ujung jalan nanti, berdiri menerima apa yang layak kuterima. dan ketika itu, nurani ini pun mengetahui bahwa sebagai seorang manusia dewasa, aku telah berusaha sekeras yang ku bisa untuk mewujudkan : di tengah kemerdekaan mengisi hidup--sebuah prinsip yang coba ku tanam dalam-dalam di diri ini--aku pun berusaha mengutuhkannya dengan menunaikan tanggungjawabku pada orang-orang yg sebagian sedih dan gembiranya disandarkan pada tindakan dan usaha-usahaku.
semua orang memang tak mau kecewa, dan karenanya tak ingin dikecewakan.
karena itu, semoga aku layak untuk menulis ini :
Saksikanlah, Aku akan menang!!!
Wednesday, August 11, 2004
jaman berganti
beberapa hari lalu, saya diminta bicara sedikit tentang OSKM sejak 98-2003, di hadapan seratus dua ratus panitia lapangan. ceritanya mereka sedang diklat kemahasiswaan. Sebentar saja saya bicara.. tak lebih dari 20 menit. tapi dari momen itu, tersentak saya akan suatu rasa yang tiba-tiba masuk ke dada saya : betapa jaman sudah berganti, dan bahasa kami pun tlah berbeda.
Monday, July 05, 2004
keluarga
hari ini saya kembali ke tengah keluarga, walau cuma sebentar, walau cuma keluarga bibi. Di cimahi. Karena, ya itu, pemilu presiden. Dan saya terdaftar sebagai pemilih di tempat bibi.
BAnyak hal yang menarik di sana. Sepupu saya yang kemarin anak-anak, taunya sekarang sudah remaja. Bedanya keliatan banget. Lalu bermacam-macam cerita yang saya dengar tentang hidup masing-masing mereka. Sadarlah saya bahwa di tengah keluarga, ada hal-hal lain yang terasa--dan takkan pernah ditemui dalam kesendirian.
Kemudian rasa rindu untuk berada di tengah keluarga perlahan mengalir di dada.
Tapi, ada satu hal yang saya sadari. Keluarga yang saya rindukan adalah sebuah keluarga yang didalamnya, saya menjadi tonggak. Dan mungkin itu berarti sebuah keluarga yang lahir kala tiba saat saya menikah.
Ada yang mau menikah? :)
saya pikir ada baiknya saya bersegera. Toh, di depan, yang ada adalah hamparan luas kebebasan untuk membentuk masa depan. dan keluarga, membuat pilihan menjadi lebih mudah.
BAnyak hal yang menarik di sana. Sepupu saya yang kemarin anak-anak, taunya sekarang sudah remaja. Bedanya keliatan banget. Lalu bermacam-macam cerita yang saya dengar tentang hidup masing-masing mereka. Sadarlah saya bahwa di tengah keluarga, ada hal-hal lain yang terasa--dan takkan pernah ditemui dalam kesendirian.
Kemudian rasa rindu untuk berada di tengah keluarga perlahan mengalir di dada.
Tapi, ada satu hal yang saya sadari. Keluarga yang saya rindukan adalah sebuah keluarga yang didalamnya, saya menjadi tonggak. Dan mungkin itu berarti sebuah keluarga yang lahir kala tiba saat saya menikah.
Ada yang mau menikah? :)
saya pikir ada baiknya saya bersegera. Toh, di depan, yang ada adalah hamparan luas kebebasan untuk membentuk masa depan. dan keluarga, membuat pilihan menjadi lebih mudah.
Sunday, July 04, 2004
menimbang rencana masa depan
semoga keselamatan dan rahmat dariNya,
senantiasa menjadi udara yg mengalir dalam tarikan-tarikan nafas kita.
Hari-hari ini adalah awal dari sebuah akhir.
nyaris tujuh tahun hidup ditengah komitmen akademik--yang begitu kuasa memasang pagar tinggi-tinggi di sekeliling kebebasan saya untuk mengisi hari. Dan saat ini, satu demi satu pagar-pagar itu mulai tercabut. Lalu kebebasan kembali membentang--untuk sekali lagi memberikan pilihan-pilihan sulit.
Ya, tak lebih dari sebulan lagi, pagar-pagar itu akan rata dengan tanah. Apapun yg terjadi selama sebulan ini. sementara, masih ada beberapa pertanyaan yg mengisi ruang pikiran.
bagaimana harus berdamai dengan masa lalu, dan menyatu dengan masa kini.., sehingga masa depan adalah pencapaian yang langkah pertamanya dimulai pada hari ini?
Nyatanya saya harus menyerah dengan fakta bahwa apa yang telah terjadi di masa lalu, seberapapun saya kecewa akannya, sudah menjadi keabadian untuk saya. Dan toh, saya masih juga tidak bisa memahaminya. Saya menerimanya. hanya itu yang bisa dirasakan saat ini.
Mungkin dengan begitu, masa depan sudah dapat dimulai dari hari ini. Mungkin sudah saatnya memandang hidup sebagai apa yang ada digenggaman. Tapi, :) masih ada tapi ternyata.
Ada saat di masa lalu, dimana sebuah cita-cita dipancangkan. Dengan semangat yang meledak-ledak. Dan kini, ada saat dimana nurani bertanya : apakah itu adalah suatu takdir, atau hanya sebuah lontaran naif dari jiwa remaja yang sedang belajar memahami harga dari kehidupan?
Jikalah itu suatu takdir, jalan apa yang akan mengantarkan manusia kecil ini ke sana?
Kalaulah itu hanya sebuah lontaran, jadi itu takdir siapa?
Nyatanya saya tidak pernah merasa yakin bahwa urusan saya dengan masa lalu sudah selesai--sebarapa pun saya berusaha menerimanya meski tak juga memahami dengan penuh.
Ah, maafkan.
Lanturan tak tentu arah ini tentu terdengar sangat "keakuan". Seakan persoalan hidup hanyalah di sekitaran diri sendiri. Bahwa saya tak jua memahami bagaimana menanggung masa lalu.. mungkin itu yang ingin dituliskan di sini. Dan sambil berharap bahwa permakluman akan ada dengan tulus dari siapapun yang merasa--dan memang--berhak untuk menagih sesuatu dari masa lalu saya.
Yah.. masa depan akan dimulai dari hari ini.
Karena rasanya saya masih harus yakin bahwa Tuhan itu Maha Memahami kelemahan seorang hambaNya. Jikalah ada takdirNya yg hendak Ia jadikan pada diri ini, tentu akan ada jalan yang mengantarkan ke sana. Dan semoga pada titik itu, jejak langkah kita bisa kembali bertemu.
Entah kapan.
senantiasa menjadi udara yg mengalir dalam tarikan-tarikan nafas kita.
Hari-hari ini adalah awal dari sebuah akhir.
nyaris tujuh tahun hidup ditengah komitmen akademik--yang begitu kuasa memasang pagar tinggi-tinggi di sekeliling kebebasan saya untuk mengisi hari. Dan saat ini, satu demi satu pagar-pagar itu mulai tercabut. Lalu kebebasan kembali membentang--untuk sekali lagi memberikan pilihan-pilihan sulit.
Ya, tak lebih dari sebulan lagi, pagar-pagar itu akan rata dengan tanah. Apapun yg terjadi selama sebulan ini. sementara, masih ada beberapa pertanyaan yg mengisi ruang pikiran.
bagaimana harus berdamai dengan masa lalu, dan menyatu dengan masa kini.., sehingga masa depan adalah pencapaian yang langkah pertamanya dimulai pada hari ini?
Nyatanya saya harus menyerah dengan fakta bahwa apa yang telah terjadi di masa lalu, seberapapun saya kecewa akannya, sudah menjadi keabadian untuk saya. Dan toh, saya masih juga tidak bisa memahaminya. Saya menerimanya. hanya itu yang bisa dirasakan saat ini.
Mungkin dengan begitu, masa depan sudah dapat dimulai dari hari ini. Mungkin sudah saatnya memandang hidup sebagai apa yang ada digenggaman. Tapi, :) masih ada tapi ternyata.
Ada saat di masa lalu, dimana sebuah cita-cita dipancangkan. Dengan semangat yang meledak-ledak. Dan kini, ada saat dimana nurani bertanya : apakah itu adalah suatu takdir, atau hanya sebuah lontaran naif dari jiwa remaja yang sedang belajar memahami harga dari kehidupan?
Jikalah itu suatu takdir, jalan apa yang akan mengantarkan manusia kecil ini ke sana?
Kalaulah itu hanya sebuah lontaran, jadi itu takdir siapa?
Nyatanya saya tidak pernah merasa yakin bahwa urusan saya dengan masa lalu sudah selesai--sebarapa pun saya berusaha menerimanya meski tak juga memahami dengan penuh.
Ah, maafkan.
Lanturan tak tentu arah ini tentu terdengar sangat "keakuan". Seakan persoalan hidup hanyalah di sekitaran diri sendiri. Bahwa saya tak jua memahami bagaimana menanggung masa lalu.. mungkin itu yang ingin dituliskan di sini. Dan sambil berharap bahwa permakluman akan ada dengan tulus dari siapapun yang merasa--dan memang--berhak untuk menagih sesuatu dari masa lalu saya.
Yah.. masa depan akan dimulai dari hari ini.
Karena rasanya saya masih harus yakin bahwa Tuhan itu Maha Memahami kelemahan seorang hambaNya. Jikalah ada takdirNya yg hendak Ia jadikan pada diri ini, tentu akan ada jalan yang mengantarkan ke sana. Dan semoga pada titik itu, jejak langkah kita bisa kembali bertemu.
Entah kapan.
Wednesday, June 23, 2004
menyatu dengan semesta
di suatu masa kala remaja.. saya sering diajak keliling jawa tengah mengikuti tugas bapak. Di perjalanan.. hamparan hijau padi di sawah adalah salah satu pemandangan yang sering didapat. Sering juga bapak memutuskan untuk berhenti di daerah seperti itu.. sekedar untuk melepas penat perjalanan. Dalam ketenangan jalan kabupaten yang sepi.. di hadapan terhampar persawahan yang luas seakan tidak berujung.. hingga kaki bukit. Dalam saat-saat seperti itu.. keinginan yang menyeruak kuat dalam hati adalah.. betapa inginnya untuk saya dapat tenggelam di dalam hamparan hijau itu.. menyatu dengan alam, menyatu dengan semesta.
Rasa damai sekali jika demikian. Yah, hamparan itu memiliki kehidupan yang lurus, dan pasrah, tanpa banyak hasrat yang seringkali justru menyesakkan diri kita sendiri. Damai sekali.
Masa itu.. sudah lama berselang. Tapi sampai saat ini, keinginan itu tetap ada. Dan bahkan rasa itu seakan telah menjadi naluri. Suatu keinginan terdasar.
Menyatu dengan semesta. Suatu perjalanan menuju hakikat. Yang pada saat itu, kebenaran bukanlah lagi apa yang kita katakan dan perdebatkan. Saat itu, kebenaran adalah realita.. kebenaran adalah fakta.
Saat itu, saat diri ini menyatu dengan semesta.., saat itulah kita telah menyatu dan hidup dalam hakikat. Saat itu, diri ini telah berserah, ego telah runtuh berkalang tanah, diri ini penuh rindu kembali menyatu sebagai hambaNya, yang tidak lagi tertarik untuk mengingkari hakikat dan fitrah.
hhh.. Tuhan, betapa aku ingin pulang.
Rasa damai sekali jika demikian. Yah, hamparan itu memiliki kehidupan yang lurus, dan pasrah, tanpa banyak hasrat yang seringkali justru menyesakkan diri kita sendiri. Damai sekali.
Masa itu.. sudah lama berselang. Tapi sampai saat ini, keinginan itu tetap ada. Dan bahkan rasa itu seakan telah menjadi naluri. Suatu keinginan terdasar.
Menyatu dengan semesta. Suatu perjalanan menuju hakikat. Yang pada saat itu, kebenaran bukanlah lagi apa yang kita katakan dan perdebatkan. Saat itu, kebenaran adalah realita.. kebenaran adalah fakta.
Saat itu, saat diri ini menyatu dengan semesta.., saat itulah kita telah menyatu dan hidup dalam hakikat. Saat itu, diri ini telah berserah, ego telah runtuh berkalang tanah, diri ini penuh rindu kembali menyatu sebagai hambaNya, yang tidak lagi tertarik untuk mengingkari hakikat dan fitrah.
hhh.. Tuhan, betapa aku ingin pulang.
Tuesday, June 22, 2004
menimbang rencana masa depan
apa yang akan ada di benak kita saat terbentang masa depan yang luas.. seperti sebuah padang rumput tak berbatas.. dan kita bisa bermain disana sesuka hati.
Apa yang akan kita lakukan saat semuanya mungkin..
Seberapa senang dan takutnya kita menghadapi keserbamungkinan yang berbalut keserba-tak-terkiraan.
Dalam dua bulan ke depan.. urusan saya dengan ganesha 10 akan tuntas, suka ataupun tidak suka. Dan setelah itu.. itulah masa depan laiknya padang rumput.. begitu banyak kemungkinan.. begitu luas ruang pilihan.
Apa yang akan saya lakukan?
bersambung...
Apa yang akan kita lakukan saat semuanya mungkin..
Seberapa senang dan takutnya kita menghadapi keserbamungkinan yang berbalut keserba-tak-terkiraan.
Dalam dua bulan ke depan.. urusan saya dengan ganesha 10 akan tuntas, suka ataupun tidak suka. Dan setelah itu.. itulah masa depan laiknya padang rumput.. begitu banyak kemungkinan.. begitu luas ruang pilihan.
Apa yang akan saya lakukan?
bersambung...
Sunday, June 20, 2004
dimanakah Tuhan...
Tuhan bukanlah apa yang dituturkan dalam diskusi-diskusi. Bukan juga yang dibahas di mimbar-mimbar kajian keagamaan.. apalagi dalam seteru orang-orang yang membela fikrah(world view)nya masing-masing.
Tuhan tidak ada disana.
Tuhan...
ada dalam sejuk embun pagi hari..
ada pada hamparan padi dan peluh petani.
Tuhan hadir dalam sujud kita yang dalam dan hening di sepinya dini hari. Tuhan ada dalam sentuhan tangan nurani pada wajah anak jalanan..
Tuhan mewujud dalam cinta kita pada setiap ciptaanNya.. pada rumput, pada nyamuk, pada awan, pada matahari, pada pengemis, pada mereka yang memusuhi kita.., juga pada mereka yang memilih untuk tak percaya akan adaNya.
Tuhan ada dalam gerak hati dan tubuh kita..
bukan pada ungkapan dan lintasan pikiran yang diungkap dengan dalih membela agama sekalipun. karena Tuhan tidak butuh dibela. karena kemanusiaanlah yang butuh dibela.. termasuk dari kejahatan yang ada dalam gelapnya kesombongan dan keakuan kita--yang sering tidak
mampu membedakan dengan jujur siapa sebenarnya yang ia bela dan perjuangkan.
wallahu 'alam
Tuhan tidak ada disana.
Tuhan...
ada dalam sejuk embun pagi hari..
ada pada hamparan padi dan peluh petani.
Tuhan hadir dalam sujud kita yang dalam dan hening di sepinya dini hari. Tuhan ada dalam sentuhan tangan nurani pada wajah anak jalanan..
Tuhan mewujud dalam cinta kita pada setiap ciptaanNya.. pada rumput, pada nyamuk, pada awan, pada matahari, pada pengemis, pada mereka yang memusuhi kita.., juga pada mereka yang memilih untuk tak percaya akan adaNya.
Tuhan ada dalam gerak hati dan tubuh kita..
bukan pada ungkapan dan lintasan pikiran yang diungkap dengan dalih membela agama sekalipun. karena Tuhan tidak butuh dibela. karena kemanusiaanlah yang butuh dibela.. termasuk dari kejahatan yang ada dalam gelapnya kesombongan dan keakuan kita--yang sering tidak
mampu membedakan dengan jujur siapa sebenarnya yang ia bela dan perjuangkan.
wallahu 'alam
Thursday, June 17, 2004
meraih kembali jati diri
beberapa hari lalu.. lewat jalur friendster.., saya sampai di profil seorang rekan lama. Sudah lama sekali saya tidak ketemu, apalagi berbincang dengannya.
Tak lama saya baca testimonialnya.. sesaat kemudian seperti ada sesuatu yang menghantam dada. Saya seperti menemukan kembali jati diri yang sudah lama terabaikan, lewat paparan akan dia oleh rekan-rekannya. Dalam beberapa hal yg mendasar.. saya memang sama dengan dia.
Sejurus kemudian.. yang memenuhi batin saya adalah suatu ironi, kegetiran, suatu kesadaran bahwa : jika saya yang remaja melihat saya saat ini, ia akan mencibir, dan saya akan sangat merasa malu dihadapannya.
Entah mengapa. Seperti begitu banyak yang terkikis dari diri ini. Seperti ada yg hilang.. dan nurani tidak lagi menghargai diri sebaik dulu.
Tapi syukurlah.. kejadian itu--yang membekas di hati mungkin untuk waktu yang lama--membuat saya tahu apa yg akan mengisi hari-hari terakhir saya sebagai mahasiswa di ganesa 10. Akan saya cari dan kembalikan jati diri itu. Ingin saya selesaikan satu tahap penting dalam hidup.. dengan diri yang kembali utuh.
Semoga.
Tak lama saya baca testimonialnya.. sesaat kemudian seperti ada sesuatu yang menghantam dada. Saya seperti menemukan kembali jati diri yang sudah lama terabaikan, lewat paparan akan dia oleh rekan-rekannya. Dalam beberapa hal yg mendasar.. saya memang sama dengan dia.
Sejurus kemudian.. yang memenuhi batin saya adalah suatu ironi, kegetiran, suatu kesadaran bahwa : jika saya yang remaja melihat saya saat ini, ia akan mencibir, dan saya akan sangat merasa malu dihadapannya.
Entah mengapa. Seperti begitu banyak yang terkikis dari diri ini. Seperti ada yg hilang.. dan nurani tidak lagi menghargai diri sebaik dulu.
Tapi syukurlah.. kejadian itu--yang membekas di hati mungkin untuk waktu yang lama--membuat saya tahu apa yg akan mengisi hari-hari terakhir saya sebagai mahasiswa di ganesa 10. Akan saya cari dan kembalikan jati diri itu. Ingin saya selesaikan satu tahap penting dalam hidup.. dengan diri yang kembali utuh.
Semoga.
Tuesday, June 15, 2004
menjadi abadi
siapa yang sudi berperang untuk mati?
siapa yang rela hidup bukan untuk dirinya?
siapa yang bisa menerima bahwa dirinya ada untuk memenuhi keinginan yang bahkan ia tidak sedikit pun berandil menentukannya.
Tapi, nyatanya hidup yang sesungguhnya barulah dimulai ketika menjadi jelas dalam diri kita bahwa kebermaknaan tertinggi diri ini ada pada suatu alasan yang menggerakkanNya menghadirkan kita di dunia, alasan yang mengantarkan kita menjadi abadi di sisi yang Maha Abadi.
siapa yang rela hidup bukan untuk dirinya?
siapa yang bisa menerima bahwa dirinya ada untuk memenuhi keinginan yang bahkan ia tidak sedikit pun berandil menentukannya.
Tapi, nyatanya hidup yang sesungguhnya barulah dimulai ketika menjadi jelas dalam diri kita bahwa kebermaknaan tertinggi diri ini ada pada suatu alasan yang menggerakkanNya menghadirkan kita di dunia, alasan yang mengantarkan kita menjadi abadi di sisi yang Maha Abadi.
intro..
muhammad firman..
seorang manusia yang dihadirkanNya untuk menuntun diri ini,
mendampingiku belajar, mencari kemanusiaanku, menemukan
takdirNya untukku, dan untuk kemudian..
menjadi dirinya.
berjuangUNTUKmenjadi.. muhammad firman.
seorang manusia yang dihadirkanNya untuk menuntun diri ini,
mendampingiku belajar, mencari kemanusiaanku, menemukan
takdirNya untukku, dan untuk kemudian..
menjadi dirinya.
berjuangUNTUKmenjadi.. muhammad firman.
Subscribe to:
Posts (Atom)
