Monday, September 12, 2005

Adakah pagi ini adalah dzikir?


Bismillah.
dengan namaNya, Yang Maha Pengasih, Yang Maha Penyayang..
Adakah pagi ini adalah dzikir? ketika kutilang berkicau selepas subuh, kala matahari mulai membuka selimut gelap malam.. pun sejak sujud2 hening dini hari tadi.
Adakah pagi ini adalah dzikir? Ia Yang Hadir di tengah hati hamba-hambaNya.. semoga tlah pula hadir di hatimu pagi ini :)

Wednesday, September 07, 2005

untukmu bunda

matahari cerah disini.
teriknya pun belum lagi terasa.
dan nun disana, seorang wanita yang kami cintai, yang dalam hidupnya kami saksikan kejujuran, kebebasan, dan cinta kasih..
apa kabarmu hari ini? rindu kami kepadamu :)

bunda,
sejarah panjang hidupmu adalah selaksa cinta dan hikmah
sejenak perjumpaan kami denganmu adalah dunia cahaya dan makna

bunda,
doa kami atasmu senantiasa,
pada pagi kala kau terlahir kembali setiap hari
pada malam kala kau pulang padaNya menggenapkan bakti
dengan cinta, dengan harapan,
bahwa Ia Sang Maha Mengekalkan cintaNya untukmu selalu,
bagimu,
yang tlah hadir dalam gembira dan tangis kami,
yang ada disisi kala jatuh dan bangun kami.

dari kami yang mencintaimu.
anak-anakmu.

Friday, April 29, 2005

sebuah pagi sempurna

hangat peraduan
syahdu panggilan shalat
sejuk air membasuh wajah
hening rumah ibadah
takbir, dua ruku empat sujud


sebuah pagi sempurna

Tuesday, April 26, 2005

[catatan pagi] #1

masa depan selalu ada bagi mereka yang memiliki harapan dan keyakinan bahwa Allah senantiasa memberinya kesempatan, pertolongan dan kemudahan untuk menjadi lebih baik, untuk diterima oleh hati nuraninya sendiri.

kekayaan hidup adalah pada memberi dengan sepenuh tulus, pada melayani dengan sepenuh cinta. Tiap sesuatu yang kita bagi dengan orang lain, waktu; tenaga; harta; perhatian; akan menjejakkan bekas pada batin yang meyakinkan diri ini bahwa : semua yang telah kita berikan itulah yang sesungguhnya kita miliki. Karena padanya kita memiliki kendali untuk menyerahkannya pada orang lain. Bukankah kita tidak berhak memberikan pada orang lain sesuatu yang bukan milik kita...?

ada kalanya

ada kala hati terpesona
pada keagungan sosok suci tak tersentuh
pada tunduk pandangan
pada hampar sandangan
pada luhur tatanan
hingga pun berlalu tak tergapai
sebuah kehidupan yang lain.. yang berbeda
yang hanya sejenak berselisih jalan
tuk sekedar diketahui
sekedar tahu

ada kala hati dikuatkan oleh pertemuan pejuang dari medan perang
dengan semangat yang sama
dengan sandi yang sama
untuk Sang Raja yang sama
hingga pun tiba saat kembali berbaju zirah
mengencangkan pelana
mengusung panji
menghunus pedang
meneriakkan pekik semangat menyambut panggilan
menyadari takdir harus berpisah memenuhi perangnya masing-masing

ada kala hati tertambat untuk berlabuh
pada ketenangan yang hadir dalam sosok ia yang begitu sederhana
dengan kepolosan
dengan keramahan
dengan angin semilir dan pagi yang cerah
hingga pun kaki ini tak tertahan tuk beranjak
kembali mengarungi perjalanan, tantangan, penjelajahan-penjelajahan
dalam diri ini adalah darah petualang yang menghidupi jiwanya
dengan pencarian, penaklukan, kesendirian, arus-arus deras ketidakpastian


maka
bilamana diri diutuhkan, bagaimana dipertemukan

Wednesday, April 20, 2005

a morning

a morning in a day I can bear a life with.

tak tahu bagaimana harus mensyukuri.

hanya Syahadat sajalah yang terdaras.

Friday, April 01, 2005

putih

putih
putih itu suci. itu bukan kata saya. kata guru saya waktu sd. dan mungkin juga itu kata nenek moyang guru saya. ga jadi soal. toh saya sepakat dengannya. dan putih yang suci itu, sungguh saya menyukainya. tepatnya nurani saya yang menyukainya. saya manut aja sama sang nurani. karena saya meyakini, pada nurani, Tuhan hadir memberikan ilham yang senantiasa menghidupi fitrah diri ini.

kertas putih
kala kecil kita mungkin seperti kertas putih. suci, dan siap menerima tulisan dan segala yang bisa memberikan warna padanya. dan seiring waktu, kertas putih itu terisi dengan beragam warna. tak mungkin tidak. karena manusia hidup belajar, bekerja, berdiri, terjatuh, gagal, berhasil, gagal lagi, dan kembali berdiri karena bersiteguh mengejar keberhasilan hakiki. dan pada akhirnya kertas tak lagi putih. kertas berwarna-warni. sedikit lecek mungkin. sobek juga.

baju putih
ku beli kali pertama dua bulan lalu. kupakai shalat, bekerja, bermain, tidur. aku mencintainya. begitu mencintainya. dan kini kusaksikan baju putih tak lagi seputih dua bulan lalu. karena ia kupakai, berdaki, kucuci, kupakai lagi. toh aku masih mencintainya. ia setia. putihnya pudar untukku.

sucikah kertas lecek berwarna-warni?
sucikah baju putih yang memudar?
sucikah hati manusia yang juga telah tersapuh dosa?

suci
karena kerelaan untuk menjadi tak lagi putih itu yang mengabadikan kesucian.
manusia terlahir suci ke dunia bukan untuk tetap suci tak ternoda. [bagaimana bisa?] melainkan untuk berjalan menuju kesucian manusiawi, kala segala kekotoran sepanjang jalan pengabdian, telah luruh karena taubat dan kepasrahan pada Sang Maha Suci.

:)
bilalah suatu hari nanti baju putihku tlah kelabu, mungkin aku bisa membeli yang baru di pasar baru. tapi bilalah hatiku kelabu, aku tahu, yang kubutuhkan adalah kembali ke hadapan Tuhanku, dengan ruku dan sujud sepenuh tawadhu.

Wednesday, February 23, 2005

tentang hujan

kemarin sore.. hujan turun lebat sekali. Airnya turun deras sekali. dengan kilat guntur menyela sesekali. pepohonan bergoyang diterpa angin berkali-kali.

dan kita pun terpana terpesona dengan dahsyatnya hujan itu.
ya itu hanyalah air. tetapi caranya hadir adalah unjuk kekuatan alam yang membuat manusia takut, takjub, hingga tasbih dan takbir pun terucap.

Di kala lain, sapardi menulis puisi tentang hujan bulan juni yang tabah dengan rintiknya yang ramah.

yah,aku senantiasa menikmati indahnya hujan. ia selalu membawaku pulang ke masa kecilku yang selalu riang dan hangat kala hujan tiba. dengan permainan, dengan keterpesonaan, dan dengan kerinduan padanya yang meruyak pelan dalam dada, di tengah kesendirian.

hujan.. keindahanmu adalah jejak Tuhan di hadapan. terima kasih atas perkenan untuk diri ini menyaksikan.

Thursday, February 03, 2005

26 masa mentari

syukur adanya pada diri ini atas masa yang telah Tuhan berikan. Perjalanan panjang, penuh cerita, cacat, dan hikmat. Dan saat ini, tersadari bahwa Ia Yang Kuasa berkehendak menghadirkan diri ini di dunia, adalah nikmat tak terkira berharganya. Ya, diperkenankanNya untuk menjadi manusia, dengan sepenuh kesadaran akan kemanusiaannya.

Dan aku berharap bahwa diriku adalah "diri yang senantiasa sadar akan masa dan pengabdian. Yang hidup waktu ke waktu dengan kerja karya belajar, dengan sepenuh diri, antara Tuhan, manusia, dan bumi yang dipijak.

tak lupa juga rasa syukur atas nikmat persahabatan yang tercurah..
betapa diri ini telah sedemikian dilimpahi.

mfirman
1 feb 2005. 22.35
Assww. Besok, genap 26 tahun matahari saya ada di dunia ini. Masaa yang panjang, yang bercacat dan bercerita. Saya mohon sepotong doa nasihat yang tulus, sebagai cahaya pemandu, untuk diri ini kembali ke titik nol. Makasih.

inta
1 feb 2005 22.54
^-^ Just want to say.. BARAKALLAH.. semoga Allah memudahkan segala urusanmu, tetap istiqamah ya. Jadilah JundiNya yang taat dan tsabat..

elma
1 feb 2005 23.58
tolong hentikan sejenak nafas duniamu, desah fikirmu. Resapi hening malam, dan tatap bintang di langit barat. 26masa mentari tlah mengantar langkahmu, 9490 malam telah menemani lelapmu, terus meniti menuju dirimu saat ini. Ttaplah bintang dan dengarkan doaku yang kutitipkan padanya. Ya Allah, jadikan dia seorang muhammad firman yang menggapai kemenangan yang sesungguhnya. Yang tumbuh jauh lebih besar dari kungkungan tubuhnya, yang hatinya jauh lebih lapang dari jasad yang membungkusnya, yang pemikirannya jauh lebih luhur daripada segenggam otaknya.. yang lebih agung daripada dia yang sedang menatap bintang saat ini.. Amin.

wibi
2 feb 2005 00.04
Asswrwb. Man, selamat ulang tahun sahabatku.. semoga panjang umur, murah rezeki, tetap semangat, sehat selalu dan sukses man. Semoga benar-benar jadi motor penggerak salman!

deasy
2 feb 2005 00.31
HapiBday mas firman. Semoga Allah selalu memberikan petunjukNya disetiap langkahmu. Semoga umur dan kesempatan yang diberikanNya menjadi berkah buatmu dan oranglain. Semoga menjadi manusia yang semakin baik setiap hari.

Andik
2 feb 2005 03.01
It’s your birthday now. I guest we getting older, right? Well setiap detik kita adalah amanah dariNya. We should use it wise. Hope your wishes come true. Selamat ultah saudaraku. May Allah always guide you.

Ulfah
2 feb 2005 03.25
Asslm. Met ultah kak! Perjalanan masih panjang, dan banyak hal harus ditunai. Jangan sia-siakan umur yang masih bersisa menujuNya! Jangan umur aja, agama juga buru digenapin tu! ehem! he3

Yustika
2 feb 2005 04.31
Met milad ke 26. moga usiamu barakah. Istiqamah di jalan Allah. moga tiap detik mendatang hanya untuk Allah, bahagia dunia akhirat. Moga tambh mature dan sukses. Juga tambah shalih. “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan ‘Tuhan kami adalah Allah’ kemudian mereka tetap istiqamah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan mereka pun tiada berduka cita” (Q.S.46:13)

0818 0213 1713
2 feb 2005. 05.53
Hanya sedikit saja dari bentang usia dunia, dikaruniakan untuk seorang anak manusia, hanya sedikit saja celah-celah momentum amal dalam usia, hendak digenggam oleh anak manusia..

Yuti
2 feb 2005 08.14
Apa yang bisa dikatakan jika seseorang telah mengakui rapuh jiwanya—selain kemurnian harap akan petunjukNya, kejernihan hati dan pikiran serta kelapangan tuk senantiasa belajar.

Yos
2 feb 2005 08.35
met ultah ya, moga-moga bertambahnya usia semakin dewasa dalammenyikapi banyak hal, introspeksi dan evaluasi diri sebgai seorang muslim yang takwa pada Allah swt. Good Luck

KaParah
2 feb 2005 06.50
met ultah adikku. Barakallahu! Mantap menatap, merancan masa depan. Terus belajar untuk menjadi lebih baik dalam ridha Allah swt. Saling mendoakan ya. Amin.

Za
2 feb 2005 10.10
Wah, baru kali ini saya diminta sama yang ultah untuk m,endoakan. Sip2, saya doakan. Tapi jangan kembali ke titik nol dong, lompat langsung ke level 10. Kapan traktir-traktir? :P Selamat 26 man!

Yoga
2 feb 2005 16.12
Bang, met ultah! Semoga Allah swt senantiasa melimpahkan rahmat dan karunia ke abang.. Hehe wishing u all the best man!

Dini
2 feb 2005 16.16
Slamat ulang taun yaa! Moga-moga makin bijak, makin soleh.. jangan pernah ngerasa tua hueuheuhe.

Ila
2 feb 2005 18.27
Assalaamu’alaikum. Mo ngucapin happy birthday buat mas firman. Moga-moga sukses terus cepet dapet jodoh (kalo married aku di undang ya!) Jadi lebih baik aja deh dari taon lalu..

Ilma
2 feb 2005 18.56
Met ultah ya.. kalo minta nasihat, cari aja langsung ke sumber yang paling benar, Al Qur’an. OK? :)

Renge
2 feb 2005 20.27
pa kabar kang firman...? slamat ulang tahun... ya. moga tambah bijak... n makin bermanfaat.. hehehe... kasi petuah aku lagi dong... kan pengen dapet nasihat.. cieeeeh. ok itu dulu ya... wassalam

Yustika
2 feb 2005 23.10
Ucapan milad lagi ni, sebagai penutup hari :). Kata Sayyid Quthb, “usia bukanlah bilangan waktu, melainkan bilangan kesadaran dan prestasi”. Jadi, selamat menorehkan prestasi, lebih dari sebelumnya!

Ipin
3 feb 2005 00.20
Wilujeng milad. Mugya dihampangkeun urusanna, dicaket keun rizkina, diparengkeun jodona, dikabulkeun du’a&impianna, didewasakeun akal&pikiranna. Allahumma Amin.

Chica
3 feb 2005 09.31
Kang Firman, selamat ulang tahun kemarin. Doa chica, semoga tahun ini beberapa tahapan dari mimpi kang firman terwujud.. semoga cinta dan kasih sayang dari Allah senantiasa menemani tiap langkah kang firman. Amin. OK, semoga tetap luar biasa ya! C u!


Ya Allah.. dalam segenap diri, apa adanya, tak satupun yang luput dari pandanganMu, hambaMu ini yakin bahwa rahman dan rahimMu meliputi segala.
Karena Engkaulah Yang Satu dan Yang Ada.
Hanya Engkau Saja.

Saturday, January 15, 2005

mengisi waktu

ketika kita tahu betul apa yang akan mengisi waktu-waktu kita
dan semua itu tak lain adalah hal-hal dimana kita menjadi diri sendiri..
rasanya tidak ada waktu sebaik itu.
saat itu kita bisa tahu rasa yang sesungguhnya dari "ada" dan "menjadi".

dan oleh karenanya..
entah seperti apa rasa syukur harus tersemat di hati
ketika ada masanya diperkenankan menjalani hidup seperti itu.

dan kini..
hari-hari saya adalah
menulis,
berbagi,
membaca,
merenungi,
melayani,
mengisi waktu sebaik-baik yang aku bisa.

dan..
kemerdekaan takkan pernah terraih tanpa perjuangan!

Wednesday, January 05, 2005

transformasi

tahun baru.
untuk banyak orang, ini adalah momen tepat memulai perubahan.
kalaulah pada tahun kemarin mereka sudah kalah.. ini adalah ronde baru, dan karenanya permainan mulai lagi dari awal.. masih bisa menang kembali.

yah.. kemarin memang sebenarnya cuma pindah tanggal dari 19 ke 20 dzulqa'dah. Hanya saja, mungkin akan membantu kalau kita bisa menanamkan dengan kuat dalam fikiran kita, bahwa ada sebuah fase baru yang harus dijelang dengan keyakinan.

dan toh.. kata seorang bijak, ketika waktu bergeser.. itu adalah sesuatu yang baru. sepenuhnya baru. karena itu tak usah ragu untuk menjadi orang yang baru.. dengan semangat yang baru juga. Singkatnya.. hiduplah hari ini.. disini!.

Jadi, begitulah. ini fase baru. untuk sebuah perubahan. transformasi.
dan kata siaware kemarin.. transformation doesn't tolerate mediocrity. living extraordinary!
Ya! begitu! begitulah.
berubahlah sepenuhnya.. tanpa ragu.
gunakan jenak demi jenak untuk tindakan tindakan sepenuh hati. dan saat demi saat, akan kita saksikan dunia dan realita kita berubah. karena tindakan sepenuh hati, sesederhana apapun, akan merubah.

menjadi lebih, sepenuhnya.

Friday, December 31, 2004

meniti hari baru

banyak yang terjadi di akhir tahun ini.
sementara, saya sedang tak banyak bisa menulis.
diijinkanNya dapat merasakan hidup yang sesungguhnya selama 4 hari di siaware.. rangkaian kesempatan berbagi setelahnya.. dan terakhir.. nestapa aceh yang menerpa kita semua..

banyak yang terjadi..
dan semoga, banyak pula kesadaran yang terraih kembali.

tahun 2005.. semua harus menjadi lebih baik.
untuk hidup yang jujur, bersih, mewujudkan integritas dan kredibilitas diri..
karena hidup.. dan kemanusiaan.. adalah mulia, dan menjalani hidup adalah berarti senantiasa memuliakan keduanya.

Tuhan,
dalam sujud kami bersyukur atas segala RahmatMu..
bahwa hingga hari ini, dalam hidup yang engkau anugrahkan..
kami pun bisa merasakan hadirnya kesadaran akan betapa bernilainya anugrahMu..
dan masih diperkenankan untuk menyadari segala jelaga dosa dan kesalahan, segala kelemahan dan kerinduan hati kami, untuk menjalani hidup dengan cinta pada sesama, dalam cinta kepadaMu.

Tuhan,
dalam sujud kami bersyukur kepadaMu.
ijinkan kami meniti hari baru.. dengan nurani, di jalan cahaya.

Friday, November 26, 2004

jalan cahaya

ramadhan sudah berlalu.
dan hari-hari ini, harapan bahwa semangat kesucian tetap menyelimuti setiap pagi setiap hari.. menjadi teman seperjalanan. yah, sebuah ramadhan terbaik dalam tujuh tahun terakhir sudah seharusnya dapat dipelihara.
karena ramadhan yang baik adalah yang mengkukuhkan perubahan.
ada saat dimana diri ini berharap semua dosa jelaga, aib dan kehinaan diri dapat tercuci bersih.. hingga diri ini tak terlalu terhina saat harus kembali menghadap Ia Yang Maha Suci.

Tuhan, kekalkan hamba di jalan cahaya

Friday, November 12, 2004

pesan seorang kristiani..

seorang rekan kristiani saya menyampaikan sebuah pesan lewat email. saya tahu, dia menuliskannya dengan penuh simpati.

"Selamat berkemenangan bagi seluruh umat islam. setelah 30 hari penuh tak cuma menahan dahaga dan lapar, namun yang paling utama adalah melakukan aksi solidaritas terhadap mereka yang papa dan tertindas dengan merasakan dahaga dan kelaparan mereka, saatnya takbir mengudara dengan lembut dan penuh cinta. karena kemenangan anda tak cuma kemenangan personal, tapi kemenangan kolektif umat manusia. Dengan demikian, sayapun ikut terlibat di dalamnya. Hari minggu tanggal 14 november, saat anda melakukan sholat ied di mesjid, sangatlah mungkin saya juga sedang beribadah di gereja. ijinkan saya menaikkan doa syukur pada Allah Bapa atas kemenangan anda".

Bagaimana hati kita harus menyambut pesan seperti ini..?
Mungkin kita terbentur dengan perbedaan akidah, sehingga simpati yang dalam itu hanya bisa kita pandangi--dengan sedikit rasa janggal--tanpa bisa kita sentuh.

Tapi jika kita mencoba melihat dari sisi lain : seorang manusia yang meski memiliki pemahaman yang berbeda akan Tuhan, masih berusaha untuk menjiwai bahwa sesungguhnya seluruh manusia--yang beragama apapun--berdiri sejajar dihadapan Tuhan. Dan karena itulah ia masih yakin bahwa ia bisa berharap keberagamaan yang berbeda tetap dapat menghadirkan kedamaian untuk kemanusiaan yang satu. karena kita semua diciptakan dan dihidupi oleh Tuhan yang Satu--kita sadari ataupun tidak.

Dengan cara pandang seperti ini mungkin simpati itu bisa kita ijinkan memasuki ruang hati. Entahlah, sebenarnya hanya Tuhan yang tahu apa yang ada dalam benak rekan saya itu ketika ia menuliskan pesan diatas.

Bahwa Tuhan itu Satu dan KeesaanNya tak terganggu walau sedikit oleh seperti apapun manusia memahaminya, semoga memastikan kedamaian itu senantiasa ada dalam jiwa setiap insan. Walahu'alam bishshawwab.

Sunday, November 07, 2004

pada para pejuang..

6/10/04
0856234
15:23
Ass.wr.wb.
Sahabat, maafkan segala kesalahan saya. Ijinkan juga saya menyampaikan, sebagaimana Allah mencintai hambaNya yang berjuang dijalanNya, demikianlah hati ini berkata pada sahabat yang bersama antum saya mencoba berjuang dijalanNya. Semoga kita dinaungi ridhaNya, senantiasa.

0856222
17:19
InsyaAllah aku juga mencintai semua pejuang-pejuangNya karena Allah. InsyaAllah karena itu pula air mata ini mengalir untuknya.

0856222
17:24
Karena Allah, aku yakin kita semua siap melepas pergi satu sama lain, seperti hati ini ikhlas dan bahagia melepasnya. Semoga Allah menaungi kita dengan RidhaNya, sampai bertemu di bawah senyumNya :)

29/9/04
0856234
20:36
Ketika kita bekerja karena cinta nurani pada Tuhan dan setiap manusia, hati ini boleh tenang dengan tawakal padaNya. Jangan takut mengecewakan orang lain, tapi takutlah akan pengkhianatan diri sendiri pada nurani, dan ketidakikhlasan dalam bekerja. Ada saat dimana tubuh menjadi lemah, waktu menyempit, langkah melambat, tapi selama kita tetap menuju arah yang benar, pada saatnya kita kan tiba pada ridhaNya.

Saturday, November 06, 2004

tentang seorang sahabat..

Sesaat lengang.
Wajahnya yang masih saya jumpai kemarin di masjid salman, terbayang. Sejurus kemudian ketulusan dan kesungguhannya dalam meniti perjuangan di kampus tercinta, memenuhi dada ini. Dan, untuk kali pertama dalam hidup, saya merasakan kehilangan yang dalam.
Ya, ia telah pergi, dan kita takkan bisa bertemu lagi disini meski rasa rindu menusuk. Ia takkan ada lagi diantara kita disini. Ada sesal karena tak memberi yang terbaik dalam persahabat yang terjalin erat meski tak lama. Ada sesal karena terkadang ragu dengannya kala ia menjalankan tugasnya. Ada sesal karena tak sempurna mendampingi kala ia kerap bertanya tentang pembelajaran dan kaderisasi. Ada sesal karena akhir-akhir ini abai akan persahabatan yang telah terjalin, karena dijepit tenggat akademis.

Namun..
Dalam sejenak itu, pun terbersit rasa syukur yang haru.. bahwa pernah diri ini mengenalnya. Pernah berbincang erat berdua. Pernah saling membantu, tak ragu tuk berbagi kritik dan pengakuan, saling melengkapi untuk menggenapkan visi bersama. Pernah merasakan semangatnya yang deras, yang semoga menjadi abadi—senantiasa menginspirasi untuk BERGERAK LANJUTKAN PERJUANGANNYA.

Kini,
Lanjutkan perjuangannya adalah satu hal yang bisa saya lakukan. Mengamalkan segala ilmu dan kebenaran yang tiba pada diri kita melaluinya adalah hal lain yang bisa kita lakukan. Memuliakannya dengan doa dan meneladani seluruh kebaikan pada dirinya mengutuhkan rasa terimakasih kita akan segala jejak kebaikan yang pernah ditorehkannya dalam hidup kita. Ya, bahwa dalam hidup kita seseorang yang mulia pernah singgah adalah sebuah kehormatan. Kehormatan yang harus kita syukuri hingga saat nanti kita dipertemukan kembali, InsyaAllah di JannahNya, dalam dekapan RidhaNya yang abadi.

Sigit, inilah persaksian kami bahwa dirimu mulia!
Ya Rabb, muliakan ia di JannahMu. Naungi ia dengan RahmatMu yang tak berbatas.
AllahuAkbar!

menjemput hidup yang baru

malam tadi, bandung hujan lagi. setelah sekian lama.
dan subuh ini ganesha tampak lembab. pohon-pohon yang basah.. rerumputan yang basah berlapis embun.
dan kampus ini--yang rumahku juga--pun tampak sepi. tak sekedar sepi subuh hari. hari ini banyak sudah yang kembali ke kampungnya masing-masing. mudik. menyambut idul fitri di tempat semuanya bermula, kota kelahiran.
saya sendiri, bersyukur sekali masih bisa berada di salman sampai hari fitri itu tiba. dan melewati hari-hari ditemani hujan, pohonan yang menjadi lembab, hening yang mengijinkan pikiran menjadi jernih, adalah rangkaian hari yang sempurna untuk mensempurnakan ramadhan. untuk mengutuhkan perbaikan diri. untuk menjadi diri yang baru. untuk hidup yang lebih baik.

dan semoga, setelah ramadhan ini, kehidupan yang baru akan datang, dimulai. InsyaAllah.

Wednesday, October 27, 2004

kembali ke tanah jawa

Tiga hari kemarin, kamis hingga sabtu, saya kembali ke tanah jawa, semarang.

Pada hari-hari itu, puasa terasa lebih berat secara fisik. Ya, semua tahu kalau semarang itu panas. Tapi, rekan saya di sini [baca:semarang] pun bilang bahwa hari-hari itu lebih panas dari biasanya. Dan sepertinya itu yang membuat saya melihat di sini banyak orang tidak puasa. Belum tengah hari, saya sudah mulai melihat orang mengunjungi warung untuk minum es teh dan makan. Tampak lazim saja. Seperti bukan di bulan puasa. Entah karena kerja berat yang memaksa, atau memang enggan dengan beban cuaca seberat ini, atau mereka memang bukan muslim. Saya tidak tahu.

Disisi lain, cuaca panas itu juga yang membantu saya untuk mempersepsi keadaan di sekeliling tidak secara fisikal. Dalam panas seperti itu, kita justru berusaha abai dengan sensasi-sensasi fisikal yang sama sekali tidak nyaman. Berbeda sekali dengan nikmatnya kesejukan Bandung setiap pagi.

Persepsi non fisikal itu, kemudian seringkali membuat kontemplasi hadir dengan mudahnya di tengah siang hari bolong yang teriknya minta ampun. Saat itu, simpanglima yang adalah pusat keramaian kota, bisa jadi hening, ketika semua orang akhirnya menahan diri untuk berbuat sesuatu. Dalam pada itu, manusia begitu mudah tersadar bahwa dirinya kecil di tengah kekuatan alam. Dan pada saat itulah.. kehidupan tampil sebagaimana seharusnya. Saat manusia menyadari kekecilan dirinya di tengah kehidupan ini. Tak heran, untuk saya, lebih mudah mencari kedamaian di kota ini, lebih mudah mengingat Tuhan di kota ini, daripada di Bandung dimana ego manusia begitu terekspresi secara eksplisit—jikalah tak ingin dikatakan vulgar. Bandung adalah kota yang sangat “human constructed”, sementara semarang sebegitu alami dan bersahaja.
Panas memang identik dengan kota ini. Itu juga yang membuat banyak orang memperoleh kenangan justru dari sesuatu yang sama sekali tidak menyenangkan itu. Saya sendiri masih mengenang dengan indah masa-masa SMP yang penuh peluh karena tiap pagi dan siang harus berkejaran meraih bis kota. SMP saya SMP 2 semarang, bekas SMP jaman belanda: MULO.

mulo

debu itu melayang
deru mesin, teriak suara, peluh mengalir
matahari di atas kepala
angin kering bertiup membawa gerah

debu itu melayang
wajah tak lagi sejuk, hanya hati menyejuk
kota mengajak tawadhu

dan,
debu itu melayang
hati ini melengang
menyadari diri ini hanyalah debu

dan,
debu itu melayang
melekat pada peluh dahi
sesaat kemudian,
air wudhu membasuhnya mengalir turun
wajah menyejuk hati melengang tangan bersedekap

matahari di atas kepala
sepuluh tahun yang lalu.
semarang, 2002
.
Hari kamis dini hari, saya tiba di semarang. Naik bis kramat jati. Ketika bus itu mulai memasuki kota semarang, kesibukan pasar karangayu—sebuah rutinitas harian yang selalu menyambut setiap kali saya kembali ke kota ini—menyambut dengan kesederhanaannya. Mereka telah ramai sejak pukul 2 pagi. Mas-mas tukang becak; mbok-mbok bakul yang jauh-jauh datang dari Tugu, Gunungpati, dan Kendal; ibu-ibu yang tinggal di perumahan sekitar pasar, semua jadi satu di pasar yang ramai dan becek itu, bertransaksi, terus hingga pagi hari. Terkadang bertanya, sempatkah mereka menunaikan shalat subuh yang hanya dua rakaat itu? Saya tak tahu. Tak pernah mencari tahu.

Kemudian, ketika turun dari bis di bundaran indraprasta—ini masih jauh dari rumah saya di daerah pedurungan, semarang timur—saya segera oper ke angkot. Supirnya tentu orang jawa tulen. Tak ada orang batak yang jadi supir angkot di semarang. Jadi tak juga kita akan mendengar bahasa jawa berlogat batak.
Supir-supir angkot di kota semarang selalu berbahasa jawa. Mereka akan tampak sangat terpaksa dan kaku jika harus berbahasa indonesia. Ya, begitu adanya. Meski semarang adalah ibukota propinsi, absorbsi budaya luar tidak pernah signifikan. Kota ini adalah kota orang kecil, yang tidak terlalu suka dengan modernisasi dan gaya import. Kalaupun sekali dua kali mereka mencoba bergaya import, tak lama kemudian mereka meninggalkannya. Kami cukup tahu diri bahwa sebagus apapun gaya import itu, kami tak pernah cocok menggunakannya. Kulit kami coklat gosong karena terik matahari, badan kami bau keringat, wajah dan rambut kami kotor karena debu, akan tampak seperti lelucon kalau bergaya import. Mungkin mojang dan jajaka yang cantik-bersih-gagah-segar di bandung sana cocok dengan gaya itu, tapi kami tidak. Itulah apa adanya. Dari dulu hingga sekarang, tak banyak yang berubah. Semoga terus seperti itu. Kalaulah kita inginkan perubahan, yang diperlukan adalah perubahan karakter dan etos hidup.

Kota ini memang begitu proletar. Meski ada orang kaya, disini mereka harus menyesuaikan diri dengan yang miskin. Karena disini, yang miskin tak pernah tahu bagaimana bisa menyesuaikan diri dengan yang kaya. Ya, bagaimana bisa?
Sedangkan Bandung, tampak sebegitu borjuis. Dan yang miskin pun, entah bagaimana mereka bisa, menyesuaikan diri dengan yang kaya itu. Dengan Nike ala cicadas, edward forrer made in cibaduyut, issey miyake pasar jumat salman. Yah, kota yang borjuis. Sebagaimana sejak semula meneer belanda membangun kota itu.

Kedamaian di tengah kesederhanaan. Sampai kapanpun, di tengah carut marut sekalipun, kesederhanaan akan tetap dapat membantu kita untuk melihat kehidupan sebagaimana seharusnya. Kesederhanaan selalu menampilkan semua—yang baik maupun buruk, yang sopan ataupun yang ndugal—apa adanya. Tak ada ego dan topeng yang dapat menutupi itu semua. Saat itulah kehidupan tampil sebagaimana seharusnya.
Di semarang, dalam keadaan seperti ini, kebenaran mudah terlihat, untuk kemudian diresapi, dijiwai, dan dibagi dengan mereka : orang-orang yang disekitar kita yang hatinya miskin karena didesak kemiskinan nafkah, yang jiwanya kering karena sawah dan bibir mereka kering kehausan.

Itulah mengapa saya selalu merindukan tanah jawa. Meski harus disekap terik sepanjang hari. Meski saya bukan keturunan jawa. Itulah mengapa hati ini masih merasa harus kembali ke semarang. Meski kenyamanan bandung yang memanjakan, dapat menawarkan sejuta kemudahan hidup.
Semoga tak tertahan kaki ini untuk kembali.
titip salam pada rumputan dan tanah-tanah rekah di belakang rumah.
kaki ini rindu untuk kembali berlarian di sawah-sawah tadah hujan itu.

Wednesday, October 20, 2004

adalah pagi

sebermula adalah pagi
yang datang perlahan
bersama embun ~yang menitik di kaca jendela
yang membangunkanku dengan selapis hawa dingin
pada pipi dan telinga

kehidupan pun kembali terjaga
sedikit demi sedikit
menyingkap
daun-daun yang jatuh bersama hujan tadi malam
yang menutupi tanah basah
yang masih menyisakan harumnya untuk langkah-langkah kaki yang semakin cepat

kaki-kaki yang selalu berjalan semakin cepat
membawa diri menuju matahari
hingga saatnya matahari pun yang meninggalkan kita
menyisakan gelap untuk menutup pelupuk pelan-pelan

hingga pada akhirnya
pagi juga yang kembali membawa matahari terbit
untuk kita kembali
meniti guguran daun diatas tanah yang basah
daun-daun yang kemarin masih menaungi perlaluan kita

dan
hingga pada saatnya
pagi membawa seorang putra
untuk mulai belajar meniti jalan-jalan yang sama
yang telah menjadi perlaluan sejak dulu
yang teduh dibawah naungan tangan-tangan tua kita

dan
hingga pada saatnya
pagi mengantar seorang pemuda
untuk mulai merenungi jalan-jalan yang sama
yang telah menjadi perlaluan sejak dulu
yang kini sembab karena baru saja menerima kepulangan kita
kita yang kemarin masih menaungi perlaluan ini

sebermula adalah pagi
dan dipengakhiran... adalah pagi
yang sendiri mengantar kepulangan ini
sebuah pagi yang basah, yang tabah dengan sebuah tangisan tipis
sebuah pagi yang juga telah mengantar para leluhur kita..
_______________

akan ada saat dimana generasi berganti.
adakah upaya telah dilakukan agar generasi pengganti.. adalah yang lebih baik, dan kita menjadi yakin bahwa masa depan kampus kita akan baik-baik saja..?

memang tidak semua harus kita fikirkan.
karena itu, fikirkanlah kampus ini, ia adalah sesuatu di hadapan mata kita. yang didalamnya kita telah hidup dan belajar menjadi manusia yang lebih baik.

desa

bertanyalah kepada hati yang bening
mengenai wangi melati di pagi hari
mengenai tiupan angin di sela padi
mengenai ricik air di antara batu kali
bahwa ia tidak bisa menjawabnya,
itu karena semua terlalu indah untuk dikatakan